terombang - ambing dalam harapan
Sering pula angan-angannya terhembus angin jauh entah kemana. Hidupnya antara alam nyata dan alam khayal. Sehingga memerlukan seseorang/sesuatu yang bisa memacu dirinya untuk berbuat secara nyata. Dia sering menolong kawan-kawannya yang sedang bertengkar. Tetapi suatu ketika dia sendiri kalau diganggu orang, lebih memilih mengalah. Dengan sikap yang lemah lembut, kebaikan-kebaikannya untuk menolong sesama itu menyebabkan dia sangat disenangi dalam pergaulan. Begitu besar sayangnya, sampai kawan-kawannya pun bersedia melindungi.
Kurang berani mengutarakan pendapatnya, hal itu disebabkan karena dia khawatir kalau apa yang akan diutarakan itu akan menjadi masalah bertambah runyam. Itulah kebiasaannya berkhayal menurut imajinasinya, padahal kenyataannya mungkin tidak demikian. Sehingga orang Kasanga kelihatan seperti orang pendiam. Padahal yang sebenarnya tidak demikian, dia ingin banyak berceritera dan membagi pendapat. Pengaruh angin dari Batara Bayu yang sangat kuat menguasai dirinya, sehingga dia seolah terombang-ambing.
Tak pernah aku sangka aku bisa merasakan hal ini. Merasakan hal yang membingungkan bagiku. Siapa manusia yang tak ingin mencintai dan dicintai. Siapa orang yang tak ingin berbagi kisahnya kepada orang lain, dengan berbagi bukankah kita bisa menjadi jauh lebih ringan menanggung beban kehidupan. Iya semua itu benar, tapi apakah setiap manusia siap dengan segala perubahan yang akan menyatukan dua orang yang mempunyai kehidupan yang berbeda, masalah yang berbeda, dan cara pandang yang berbeda. Mudah bila kita hanya ingin bersenang – senang dan tak mempunyai komitmen dalam sebuah hubungan.
Menyatukan dua karakter yang sama saja itu sulit, karna kita masih mempunyai ego masing – masing. Tapi semua karakter orang tidak tercipta dengan sendirinya, semua hal yang ada dalam dirinya adalah penciptaan sebuah proses kehidupan. Dan saat ini saya sedang menghadapi pross mencintai dirisaya sendiri dan membahagiakan orang lain. Menutup diri adalah salah satu cara manusia untuk melindungi dirinya agar tidak disakiti orang lain, semua itu karna sebuah proses yang tidak semua orang merasakan dan harus tau. Mencongkel luka lama adalah hal yang lebih baik di hindari.
Jika suatu hari nanti luka itu sudah sembuh pun, bukan ide yang bagus untuk membahas atau mengulangnya lagi. Di proses ini aku belajar, sepercaya apapun aku dengan orang lain. Aku tetap harus sadar diri dimana batasku bercerita. Setiap masalah yang aku hadapi itu jauh lebih baik aku yang mundur agar bisa menenangkan diri dan menyalahkan diriku kenapa harus menghadapi masalah itu. Karna setia masalah yang aku hadapi pasti ada andil dari diriku sendiri, kenapa aku bisa menghadapi kondisi itu. Jauh lebih baik aku yang mengoreksi diri daripada aku mengoreksi orang lain.
Komentar
Posting Komentar